Keistimewaan Hari Asyuraa
Hari ini Ahad 27 Desember 2009 betepatan dengan tanggal 10 Muharram 1431 H, pada tanggal 10 Muharram ini terkenal dengan sebutan hari Asyura dan ada juga yang mengatakan hari raya anak yatim atau lebaran anak yatim.
Tanggal 10 Muharram disebut Asyura karena memiliki sejarah khusus. Pada masa Rasul-Rasul terdahulu, banyak diantara mereka mendapat kemenangan dan keselamatan dari gangguan penentang-penentang dan musuh-musuh mereka, tepat pada tanggal 10 Muharram (hari Asyura), termasuk Nabi Nuh as. Umatnya yang ingkar, kufur dan syirik dihancurkan serta dibinasakan oleh Allah swt, dengan banjir topan selama enam bulan lamanya. Setelah banjir surut, kemudian Nabi Nuh as dan pengikut-pengikutnya berjumlah kurang lebih 80 orang turun dari kapal dengan aman serta selamat tepat pada tanggal 10 Muharram. Begitu juga Nabi Ibrahim as. keluar dengan selamat dari api unggun yang dinyalakan Raja Namrud untuk membakarnya, tepat pada tanggal 10 Muharram. Allah telah memerintahkan api unggun itu untuk menjadi dingin sehingga nabi Ibrahim tidak terluka sedikitpun. Allah berfirman
قُلْنَا يَا نَارُ كُونِى بَردًا وَسَلاَمًا عَلَى إِبْرَاهِيْمَ.
Kami telah berfirman, “Wahai api jadilah dingin dan selamat atas Ibrahim.” (QS: Al Anbiya 69).
Nabi Musa dan ummatnya mendapat kemenangan dan keselamatan dari Allah swt. dengan hancurnya Fir’aun beserta bala tentaranya yang ditenggelamkan Allah di lautan tepat pada 10 Muharram. Karena itu setiap 10 Muharram Nabi Musa berpuasa dengan menghaturkan syukur kepada Allah swt.
Dari kisah-kisah di atas, jelaslah bagi kita bagaimana keistimewaan hari Asyura itu. Pada hari itu pula Allah menerima taubat suatu kaum pada umat terdahulu dan Allah akan tetap menerima taubat kaum-kaum setelahnya pada hari Asyuraa , sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al Imam at Tirmidzi dari al Imam Ali ibn Abi Tholib ra.:
Seorang pria datang kepada Nabi Muhammad saw. dan bertanya: “pada bulan apakah Rasulullah memerintahkan saya berpuasa setelah Ramadan” Beliau Menjawab: “Apabila engkau (ingin) berpuasa setelah Ramadan, berpuasalah pada bulan Muharram, sesungguhnya bulan itu bulan Allah, didalamnya ada hari dimana Allah menerima taubat suatu kaum dan akan menerima taubat kaum-kaum yang lain (yaitu hari Asyura ).
Apabila datang hari Asyura , hari yang istimewa itu, hendaklah kita gunakan kesempatan sebaik-baiknya dengan pelaksanaan tuntunan dan anjuran Nabi Muhammad saw serta ajakan para ulama ahlussunnah wal jamaah agar kita mendapatkan pahala dan keutamaan dalam kehidupan dunia yang sementara ini dan di akhirat yang kekal abadi dengan ridla dan rahmat Allah .
Nabi Muhammad saw pada hari Asyura melakukan puasa dan menganjurkan serta memerintahkannya sebagaimana riwayat al Turmudzi dari Ibn Abbas:
Rasulullah memerintahkan puasa Asyura pada hari kesepuluh (muharram)
Al Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Al Turmudzi meriwayatkan pula dari Sayidah Aisyah ra.:
Dahulu orang Quraisy pada masa jahiliyyah berpuasa pada hari Asyura . Pada masa jahiliyyah Rasulullah (juga) berpuasa Asyura . Ketika masuk Madinah, Rasullah berpuasa Asyura dan memerintahkan berpuasa Asyura . Kemudian ketika puasa Ramadan diwajibkan, Rasulullah meninggalkan puasa Asyura . Maka barangsiapa berkehendak, dia berpuasa dan baragsiapa berkehendak, dia meninggalkannya.
Al Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud meriwayatkan dari Ibn Abbas:
Ketika Nabi Muhammad datang di Madinah, beliau melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura , maka beliau bertanya :”Apa ini?” mereka menjawab:”Ini hari baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka berpuasalah Nabi Musa”. Nabi bersabda: “Maka akulah lebih berhak dengan Musa dari kalian, kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa Asyura .
Al Imam Bukhari, Muslim meriwayatkan dari Abu Musa ra, ia berkata:
Dahulu penduduk khaibar berpuasa hari Asyura dan mereka menjadikannya hari raya serta memaikan istri-istri mereka perhiasan-perhiasan mereka dan tanda-tanda keindahan mereka, lalu bersabda Rasulullah SAW : maka berpuasalah kalian.
Dari keutamaan puasa Asyura itu, Rasulullah SAW memerintahkan seorang pria untuk mengadakan pengumuman dan seruan pada hari penting itu disekitar kota Madinah, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Albukhoriy, Muslim dan Annasaiy dari Salamah bin Akwa” r.a. ia berkata:
Nabi Muhammad s.a.w. telah memerintahkan seorang pria dari suku Aslam, harap umumkanlah pada orang-orang itu bahwa siapa yang telah makan, maka hendaklah puasa (merupa orang puasa) pada sisa harinya dan siapa yang belum makan, maka hendaklah berpuasa, karena sesungguhnya hari ini hari Asyura .
Demikian juga sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Albukhoriy dan Muslim dari Rubaiyi’ binti Mu’awwith r.a. ia berkata:
Rasulullah s.a.w. mengutus pada hari pagi Asyura ke desa-desa Al-ansor yang terletak di sekitar Madinah. Siapa yang berada pagi-pagi puasa maka hendaklah menyempurnakan puasanya dan siapa yang berada pagi-pagi tidak puasa, maka hendaklah menyempurnakan sisa harinya (sebagaimana orang puasa), maka kita dahulu setelah itu memuasainya dan memuasakan anak-anak mereka insya Allah dan kita pergi ke masjid lalu kita membuatkan mereka permainan dari kapas, apabila salah satu dari mereka menangis meminta makanan, kita berikan mainan itu hingga waktu berbuka tiba.
Rasulullah SAW sangat memperhatikan dan mengutamakan adanya puasa Asyura sebagaimana yang tela diriwayatkan oleh Al Bukhory dan Muslim:
Rasulullah s.a.w. mengutus pada hari pagi Asyura ke desa-desa Al-ansor yang terletak di sekitar Madinah. Siapa yang berada pagi-pagi puasa maka hendaklah menyempurnakan puasanya dan siapa yang berada pagi-pagi tidak puasa, maka hendaklah menyempurnakan sisa harinya (sebagaimana orang puasa), maka kita dahulu setelah itu memuasainya dan memuasakan anak-anak mereka insya Allah dan kita pergi ke masjid lalu kita membuatkan mereka permainan dari kapas, apabila salah satu dari mereka menangis meminta makanan, kita berikan mainan itu hingga waktu berbuka tiba.
Rasulullah SAW sangat memperhatikan dan mengutamakan adanya puasa Asyura sebagaimana yang tela diriwayatkan oleh Al Bukhory dan Muslim:
Rasulullah SAW sangat memperhatikan dan mengutamakan adanya puasa Asyura sebagaimana yang tela diriwayatkan oleh Al Bukhory dan Muslim:
Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk memuasainya. Sahabat berkata : Ya Rasulullah, sesungguhnya itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang yahudi dan orang-orang nasrani. Beliau bersabda : tahun depan jika kita masih bisa menjumpainya Insya Allah kita berpuasa pada hari tasu’a. Lalu tidak datang tahun berikutnya hingga wafat Rasulullah SAW.
Dan sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dari Ibnu Abbas:
Rasulullah SAW bersabda : Puasalah kalian pada hari Asyura , bedakanlah dengan orang-orang yahudi, berpuasalah satu hari sebelum dan sesudahnya.
Demikian Rasulullah SAW menunjukkan keutamaannya disamping pahalanya besok di hari akhirat sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud, At Turmudzi dan An Nasa’i dari Qotadah r.a bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
Puasa hari Asyura , sungguh aku berharap kepada Allah untuk melebur dosa tahun yang lalu.
Telah diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dari Abi Qotadah r.a bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Asyura , beliau menjawab
dosa-dosa setahun yang lalu.
Dosa-dosa yang terlebur karena amal-amal ibadah itu adalah dosa-dosa kecil, adapun dosa-dosa besar, harus melalui taubat dengan mengikuti syarat-syaratnya. Termasuk apa yang hendaknya kita lakukan pada hari Asyura , ialah memperluas belanja rumah tangga, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh At Tobarony dan Al Baihaqy dari Abu Said Al Khudry r.a dari Nabi Muhammad SAW.
yang meluaskan belanja bagi keluarganya pada hari Asyura niscaya Allah meluaskan baginya dalam setahun sepenuhnya.
Pada masa Imam Syafi’i ada seorang ulama besar yang bernama Al Imam Sufyan bin Uyainah r.a
telah mengalami dengan ini hadist lima puluh tahun atau enam puluh tahun maka kami mendapatkannya yang demikian itu nyata.
Adapun menambah uang belanja dan bersodaqah kepada keluarga ialah untuk kepentingan rumah tangga dengan cara-cara yang sesuai dengan hukum syar’iy. Perluaslah shadaqah pada kaum fakir miskin serta berilah santunan pada anak-anak yatim, disamping kita memperbanyak amal-amal ibadat yang lain, dan yang terpenting gerakkanlah upacara pembacaan doa Asyura yang telah dirintis oleh ulama-ulama ahlussunnah wal jamaah demi kepentingan, kemaslahatan dan keselamatan kita serta keberkahan umur dan hayat kita masing-masing, di dalam dunia yang sementara ini dan terutama di dalam akhirat yang kekal abadi dengan ridlo, dan rahmat Allah Swt serta syafaat Nabi Muhammad Saw.
Gunakan pula kesempatan sebaik-baiknya untuk taqarub. Semoga Allah Swt. memberi taufiq dan hidayah pada kita bersama kepada perbuatan yang benar-benar mengikuti sunnah Rasulullah Saw, dan dihindarkan dari perbuatan yang tidak baik dan tercela. Demikian, Wallahu muwaffiq illa aqwamith thariq. Wassalam, (Salamalaika)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar