BUKAN KALAM (Cerita lucu akibat ceroboh dalam Beraqidah)
Artikel dikirim oleh Zainal Wong Wongan
Mbah Lalar semakin tercenung mengalami peristiwa yg membuat hatinya tercekat. Dalam penggembaraan lamunannya Beliau teringat masa2 ketika di surau/langgar, menerima pelajaran2 dr Kyainya, cerita terkenal dalam Manaqib tentang Iblis yg menggoda Syaikh Abdul Qodir Al Jailani dalam Kamar Kholwatnya. Betapa Iblis berusaha menggelincirkan Iman seorang yg tidak di ragukan kualitas keilmuannya dn Ma’rifatnya kpd Allah. Seorang Shufi yg telah membersihkan sampah2 keduniaan dn selalu berhias diri dg Penghambaan dn kecintaan hanya kpd Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Namun dg ,Ilmu dn Ma’rifatnya Sang Syaih ini mampu mempertegas dn memperjelas eksisitensi Allah SWT yg tidak serupa dg apapun dalam dadanya. Dn Iblispun di buat malu dn terkagum2 dg pengusiran dn kutukan yg keluar dr Mulut Sang Syaih itu atas dirinya.
Singkat cerita, sampailah Mbah Lalar (Mb. L) pada sebuah keputusan untk mencoba membangunkan mimpi2 aneh Kang Bangkak (K.Bk), dg mempersiapkan dialog ringan yg sederhana dn masuk akal. Sampai pada suatu kesempatan Mb. L sengaja bertamu ke tempat K. Bk, mengetuk pintu dn mengucapakan Salam.
Mb. L : Assalamu ‘alaikum.....
K. Bk : Wa’alaikum salam warohmatullah wa Barokatuh, oh silahkan masuk Mbah, mari.....
Mb. L : oooh terimakasih, sambil melirik buku yg masih di pegang K. Bk, dn berusaha membaca judulnya, sepintas terbaca judul buku itu “DIMANA TUHAN” . dalam hati Beliau menebak2, pasti gara2 buku itu.
****************************** *****************************
Tidak memakan waktu lama, mereka berdua asik ngobrol ngalor ngidul dg di temani Kopi pengantin, Istri Kang Bangkakpun ikut nimbrung duduk di pojok ruangan di balik Korden. Pada saat yg di anggap tepat, Mbah Lalar mulai membuka pokok maksud kedatangannya, Beliau memulai dg memuji, dn bertanya.
****************************** ****************************
Mb. L : saya sungguh sangat terkesan dg apa yg kamu alami di dekat Ka’bah kemarin, apa sih rahasianya sehingga kamu dapat mengaplikasikan pengetahuan sedemikian rupa?
K. Bk : Alhamdulillah, tidak sia sia selama ini saya selalu membaca, mencari jawaban apa yg selama ini amat sangat mengganggu pikiran saya.
Mb. L : memang apa yg mengganggu pikiranmu?
K. Bk : tentang Allah, bagaimana saya harus menyembah Dzat yg absolut menurut pemahaman orang2 yg gak tau hakikat Ketuhanan?
Mb. L : lalu??
K. Bk : Alhamdulillah, dalam buku tadi saya menemukan jawaban.
Mb. L : memang apa kata buku itu?
K. Bk : saya kasih poin2 penting yg tidak akan Mbah Lalar jumpai di kitab2 kuning, maupun ceramah2 Para Habaib maupun Kyai2.
1. Allah Swt itu ternyata bersemayam di atas ‘Arasy berdasarkan firman Allah dalam salah satunya ayat adalah “Arrahmanu ‘alal ‘Arsyis tawa”. Tidak seperti yg Mb. L dn kebanyakan Kiyai2 yg menolak arti Bersemayam, dg cara membelokkan Arti yg sesungguhnya.......
Mb. L : tunggu dulu!!!! Darimana arti semayam pada kalimat “istawa itu”? di kamus apa? Bukankah Istawa itu bhs Arab? Lalu apa yg di maksud bersemayam itu???
K. Bk : tenang dulu Mbh, sebentar saya carikan, naaaah disini di terangkan pada bagian agak terahir bhw bersemayam itu sama dg bertempat / duduk, sebagaimana Kata ‘Ulama berikut :
1. Dalam kitab Syarah Al Qoshidah Al Nuniyyahnya Ibnu Al Qoyyim oleh Muhammad Kholil Haras hal 256 :
إن الله يجلس رسوله معه على العرش معه
Sesungguhnya Allah mendudukkan RasulNya (Muhammad) di atas ‘Arasy bersamaNya.
2. Dalam Kitab Majmu’ Fatawa oleh Al Imam Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah juz 4 hal 374 :
إن محمدا رسول الله يجلسه ربه على العرش معه
Sesungguhnya Rosulullah Muhammad itu di dudukkannya oleh Tuhannya di atas ‘Arasy bersmaNya.
3. Dalam Kitab Thobaqotu Al Hanabilah oleh Abi Yu’la juz 1 hal 32 :
والله عز وجل على العرش والكرسي موضع قدميه
Allah ‘Azza wa Jalla di atas ‘Arasy dn Al Kursy tempat kedua KakiNya.
4. Dalam Kitabnya Al Darimi (‘Ustman bin Sa,id Al Darimi, bukan perowi Hadist Al Imam Al Hafidl Al Sunny Abi Muhammad ‘Abdullah bin Bahram Al Darimi) hal 85 :
وقد بلغنا أنهم حين حملوا العرش وفوقه الجبار في عزته وبهائه ضعفوا عن حمله واستكانوا وجثوا على ركبهم حتى لقنوا لاحول ولاقوة إلا بالله فاستقلوا به بقدرة الله وإرادته ولولا ذالك ماستقل به العرش ولاالحملة ولا السموات ولا الأرض ولا من فيهن ولو قد شاء الله لاستقر على ظهر بعوضة فاستقلت به بقدرته ولطف ربوبيته فكيف على عرش عظيم
Dan sungguh sudah sampai padaku bhw ketika mereka (Malaikat pemikul ‘Arasy) memikul ‘Arasy dn di atasnya ada Dzat Yg Maha Menang dalam keAgungan dan KeWibawaaNya, mereka menjadi lemah memikulnya, dn membungkuk dn berlutut (dengklek, bhs jawa) di atas lutut mereka, shingga Allah menuntunnya dg mengucapkan “La Haula wa La Quwwata Illa billah” kemudian mereka merasakan ringan sebab bacaan mereka dn dg Kuasa Allah dn KehendakNya. Seumpama tidak karena bacaan itu, mereka tidak akan ringanlah ‘Arasy dn tidak terpikul, juga langit dn Bumi beserta Isinya. Andai Allah berkehendak, niscaya Dia akan bertempat di punggung NYAMUK, maka nyamukpun merasa ringan dgNya sebab KuasaNya, dan Shifat Ketuhanan Allah Maha Lembut, maka Dia mencukupkan di Atas ‘Arasy yg agung.
Bersambung.................... .. InsyaAllah
Namun dg ,Ilmu dn Ma’rifatnya Sang Syaih ini mampu mempertegas dn memperjelas eksisitensi Allah SWT yg tidak serupa dg apapun dalam dadanya. Dn Iblispun di buat malu dn terkagum2 dg pengusiran dn kutukan yg keluar dr Mulut Sang Syaih itu atas dirinya.
Singkat cerita, sampailah Mbah Lalar (Mb. L) pada sebuah keputusan untk mencoba membangunkan mimpi2 aneh Kang Bangkak (K.Bk), dg mempersiapkan dialog ringan yg sederhana dn masuk akal. Sampai pada suatu kesempatan Mb. L sengaja bertamu ke tempat K. Bk, mengetuk pintu dn mengucapakan Salam.
Mb. L : Assalamu ‘alaikum.....
K. Bk : Wa’alaikum salam warohmatullah wa Barokatuh, oh silahkan masuk Mbah, mari.....
Mb. L : oooh terimakasih, sambil melirik buku yg masih di pegang K. Bk, dn berusaha membaca judulnya, sepintas terbaca judul buku itu “DIMANA TUHAN” . dalam hati Beliau menebak2, pasti gara2 buku itu.
******************************
Tidak memakan waktu lama, mereka berdua asik ngobrol ngalor ngidul dg di temani Kopi pengantin, Istri Kang Bangkakpun ikut nimbrung duduk di pojok ruangan di balik Korden. Pada saat yg di anggap tepat, Mbah Lalar mulai membuka pokok maksud kedatangannya, Beliau memulai dg memuji, dn bertanya.
******************************
Mb. L : saya sungguh sangat terkesan dg apa yg kamu alami di dekat Ka’bah kemarin, apa sih rahasianya sehingga kamu dapat mengaplikasikan pengetahuan sedemikian rupa?
K. Bk : Alhamdulillah, tidak sia sia selama ini saya selalu membaca, mencari jawaban apa yg selama ini amat sangat mengganggu pikiran saya.
Mb. L : memang apa yg mengganggu pikiranmu?
K. Bk : tentang Allah, bagaimana saya harus menyembah Dzat yg absolut menurut pemahaman orang2 yg gak tau hakikat Ketuhanan?
Mb. L : lalu??
K. Bk : Alhamdulillah, dalam buku tadi saya menemukan jawaban.
Mb. L : memang apa kata buku itu?
K. Bk : saya kasih poin2 penting yg tidak akan Mbah Lalar jumpai di kitab2 kuning, maupun ceramah2 Para Habaib maupun Kyai2.
1. Allah Swt itu ternyata bersemayam di atas ‘Arasy berdasarkan firman Allah dalam salah satunya ayat adalah “Arrahmanu ‘alal ‘Arsyis tawa”. Tidak seperti yg Mb. L dn kebanyakan Kiyai2 yg menolak arti Bersemayam, dg cara membelokkan Arti yg sesungguhnya.......
Mb. L : tunggu dulu!!!! Darimana arti semayam pada kalimat “istawa itu”? di kamus apa? Bukankah Istawa itu bhs Arab? Lalu apa yg di maksud bersemayam itu???
K. Bk : tenang dulu Mbh, sebentar saya carikan, naaaah disini di terangkan pada bagian agak terahir bhw bersemayam itu sama dg bertempat / duduk, sebagaimana Kata ‘Ulama berikut :
1. Dalam kitab Syarah Al Qoshidah Al Nuniyyahnya Ibnu Al Qoyyim oleh Muhammad Kholil Haras hal 256 :
إن الله يجلس رسوله معه على العرش معه
Sesungguhnya Allah mendudukkan RasulNya (Muhammad) di atas ‘Arasy bersamaNya.
2. Dalam Kitab Majmu’ Fatawa oleh Al Imam Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah juz 4 hal 374 :
إن محمدا رسول الله يجلسه ربه على العرش معه
Sesungguhnya Rosulullah Muhammad itu di dudukkannya oleh Tuhannya di atas ‘Arasy bersmaNya.
3. Dalam Kitab Thobaqotu Al Hanabilah oleh Abi Yu’la juz 1 hal 32 :
والله عز وجل على العرش والكرسي موضع قدميه
Allah ‘Azza wa Jalla di atas ‘Arasy dn Al Kursy tempat kedua KakiNya.
4. Dalam Kitabnya Al Darimi (‘Ustman bin Sa,id Al Darimi, bukan perowi Hadist Al Imam Al Hafidl Al Sunny Abi Muhammad ‘Abdullah bin Bahram Al Darimi) hal 85 :
وقد بلغنا أنهم حين حملوا العرش وفوقه الجبار في عزته وبهائه ضعفوا عن حمله واستكانوا وجثوا على ركبهم حتى لقنوا لاحول ولاقوة إلا بالله فاستقلوا به بقدرة الله وإرادته ولولا ذالك ماستقل به العرش ولاالحملة ولا السموات ولا الأرض ولا من فيهن ولو قد شاء الله لاستقر على ظهر بعوضة فاستقلت به بقدرته ولطف ربوبيته فكيف على عرش عظيم
Dan sungguh sudah sampai padaku bhw ketika mereka (Malaikat pemikul ‘Arasy) memikul ‘Arasy dn di atasnya ada Dzat Yg Maha Menang dalam keAgungan dan KeWibawaaNya, mereka menjadi lemah memikulnya, dn membungkuk dn berlutut (dengklek, bhs jawa) di atas lutut mereka, shingga Allah menuntunnya dg mengucapkan “La Haula wa La Quwwata Illa billah” kemudian mereka merasakan ringan sebab bacaan mereka dn dg Kuasa Allah dn KehendakNya. Seumpama tidak karena bacaan itu, mereka tidak akan ringanlah ‘Arasy dn tidak terpikul, juga langit dn Bumi beserta Isinya. Andai Allah berkehendak, niscaya Dia akan bertempat di punggung NYAMUK, maka nyamukpun merasa ringan dgNya sebab KuasaNya, dan Shifat Ketuhanan Allah Maha Lembut, maka Dia mencukupkan di Atas ‘Arasy yg agung.
Bersambung....................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar